Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Metode Penyakit Kaki Gajah

Pada musim penghujan biasanya nyamuk dapat berkembang biak dengan sangat cepat. Banyak sekali penyakit yang dapat ditularkan oleh hewan kecil yang satu ini. Salah satunya adalah penyakit kaki gajah (filariasis). Penyakit ini disebabkan oleh cacing filaria (Wuchereria bancrofti). Cacing ini dapat ditularkan melalui berbagai gigitan nyamuk kecuali nyamuk mansoni. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembengkakan kaki, lengan dan alat kelamin baik pada pria maupun wanita. Akibatnya penderita penyakit kaki gajah tidak dapat bekerja secara optimal, bahkan hidupnya harus selalu tergantung pada orang lain. Di Indonesia, penyakit ini tersebar luas hampir diseluruh propinsi.

Baca Lanjutannya…

Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Angkutan Jakarta

Metropolitan jakarta kini semakin jauh tertinggal dalam hal pembangunan angkutan umum massal berbasis bus atau bus rapid transit (BRT). Pembangunan BRT transjakarta lamban dan terlatih-latih dibandingkan dengan metrobus (mexico City), macrobus(Guadalajara), dan megabus (pereira).

Padahal, sama seperti yang dilakukan transjakarta, konsep dan sistem metrobus, macrobus, dan megabus merujuk dan mengadaptasi TransMilenio  (Bogota). Bahkan, transjakarta mengadaptasinya lebih awal lagi (2004), baru diikuti oleh metrobus (2005), megabus (2006), dan marcobus (2009).

Ibarat murid kelas 1 sekolah dasar, jakarta, mexico city, Pereira, Guadalajara pada mulanya dating ke Bogota dengan kepala kosong. Namun, tiga kota lain mempelajari konsep  TransMilenio dan mengadaptasikannya dengan kuat untuk mengubah wajah transportasi kotanya yang semrawut.

Baca Lanjutannya…

Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Perkembangan Teknologi

Perkembangan komunikasi dan informasi sekarang ini seolah-olah di dominasi oleh jejaring sosial digital yang menghadirkan penggemar yang begitu aktif diseluruh dunia. Dan dampak yang di timbulkan bukan hanya berbagai perangkat menjadi terjangkau, tetapi kompetisi di tingkat industri manufaktur pun menjadi lebih ketat. Foto digital yang pemasarannya dimana-mana menurun secara drastis. Dan ini di didorong oleh kehadiran berbagai parsarana jejaring sosial, seperti : facebook,twitter, friendster dan sejenisnya. Fenomena ini akan berjalan terus menunggu produk teknologi komunikasi informasi yang akan menjadi korban berikutnya,misalnya saja netbook menyebabkan harga jual menjadi besaing sangat ketat, menurunkan margin keuntungan serta menyeret berbagai harga komputer untuk ikut turun agar tidak jatuh menjadi produk yang tidak laku di pasaran. Kamera digitalpun mengalami hal serupa persaingan antar digital kamera dan ponsel yang memiliki kamera menyebabkan mulai susah untuk mencari pasar.

Baca Lanjutannya…

Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Korupsi??????????

Konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri masih menjadi berita utama saat Transparansi Internasional mengumumkan peringkat korupsi Negara-negar di dunia. Dengan rentang indeks dari 0(terkorup) hingga 10(terbersih), Indonesia mendapat “nilai” 2,8 naik dari sebelumnya 2,6 yang menempatakan indonesia peringkat ketiga dari 180 negara. Selama kurun waktu 14 tahun indeks itu bagi indonesia dianggap yang terbaik. Dalam lingkup yang lebih kecil, yakni sepuluh Negara ASEAN, Indonesia naik peringkat kederetan ke lima dibawah Singapura (9,2), Brunei (5,5), Malaysia (4,5), dan Thailand (3,4), prestasi yang “baik” setelah setahum sebelumnya Negara ini berada di posis buncit. Indeks persepsi korupsi yang respondennya didapat dari para pelaku bisnis itu memang memunculkan sebuah harapan. Kesempatan dan peluang berinvestasi di Indonesia dinilai semakin kondusif dan menarik bagi para pemilik modal. Meski demikian, bagi masyarakat perkotaan yang berpersepsi tentang membaiknya upaya pemberantasan korupsi masih belum jauh beranjak. Setelah “drama” di Mahkamah Konstitusi tanggal 13 November 2009, yang menyingkap merajalelanyanya upaya suap yang diikuti upaya pemindanaan unsure pimpinan KPK (nonaktif) bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, hampir tak tersisa harapan akan adanya lembaga Negara yang bebas korupsi. Memang parah nya Negara tercinta kita ini berbagai bentuk merajalelanya korupsi. Korupsi tertanam dalam berbagai lapisan masyarakat dan hampir semua institusi . hampir tidak ada satu pun institusi Negara yang tidak terkontaminasi korupsi. Ibarat penyakit, korupsi menjadi endemic dalam birokrasi serata dalam hubungan antara pemerintah dan pengusaha. Mulai dari lembaga negara di tingkat pusat daerah, hingga wilayah, tempat tinggaldi tenggarai tidak ditenggarai responden tidak bebas dari korupsi. Kenyataan nya pusaran badai korupsi memang terjadi di Negeri kita mungkin sejak negeri kita tercinta ini baru lahir, betapa parahnya Indonesia. Hampir semua responden jajak pendapat (92 persen) mengenarai parahnya korupsi dalam berbagai bentuknya yang merajalela di negeri ini.

Baca Lanjutannya…

Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Kepercayaan Pelaku Bisnis Mulai Terganggu

Permasalahan yang melibatkan beberapa lembaga penegak hukum yang terjadi akhir-akhir ini mulai dikhawatirkan beberapa pihak akan berdampak buruk terhadap pemulihan ekonomi indonesia ke depan. Bagaimana sebenarnya presepsi konsumen dan pelaku usaha terhadap permasalahan tersebut? Ekonomi indonesia pada triwulan lll-2009 tumbuh sebesar 4,29 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2008. Komponen konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasikan mencatatkan pertumbuhan positif. Tren pemulihan ini sejalan dengan pemulihan ekonomi yang juga terjadi di Negara-negar lain. Dua indeks danareksa research instute, CEI (Coincident Economic Indekx) dan LEI (Leading Economi Index), juga masih bergerak menguat. CEI dan LEI yang meningkat menggambarkan penguatan kondisi dan prospek ekonomi indonesia. Terus membaiknya semua indekator tersebut menunjukan bahwa prospek pemulihan ekonomi indonesia kedepan cukup cerah. Namun, ditengah semua berita positif diatas, muncul isu dalam hal penegakan hukum yang kemudian menarik cukup banyak perhatian publik.

Baca Lanjutannya…

Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Periklanan

Menurut Rhenald Kasali (1995;3) dalam bukunya “ Manajemen Periklanan” iklan prtama kali dikenal melalui pengumuman – pengumuman yang disampaikan secara lisan, artinya dilaksanakan melalui komunikasi verbal. Karena disampaikannya secara lisan artinya dilaksan maka daya jankauannya sempit. Namun untuk ukuran ketika itu, iklan yang demikian sudah dianggap efektif. Selangkah lebih maju dari peradaban lisan, manusia mulai menggunakan sarana tulisan sebagai alat penyampaian pesan.ini berarti pesan iklan sudah dapat dibaca berulang-ulang dan dapat disimpan.

Dalam periklanan kita temukan suatu kombiansi kreatifitas, riset pemasaran dan pembelian media berdasarkan perhitungan yang ekonomis. Kegiatan – kegiatan periklanan memnag bisa menelan biaya yang sangat mahal, namun selama itu didasarkan pada tujuan dan perhitungan yang jelas maka semuanya bisa dibenarkan. Yang penting semua kegiatan itu tetap ekonomis dalam pengertian dapat mencapai sasaran dan tetap menjamin keuntungan perusahaan. Sebuah kampanye periklanan baru bisa diktakan baik jika semuanya terencana dan terselenggara sedemikian rupa sehingga dapat mencapai hasil – hasil yang diharapkan dengan anggaran dana yang tersedia. Banyak kampanye periklanan yang menelan biaya yang tidak sedikit, namun itu tidak bisa dikatakan berlebihan karena semuanya relative tergantung ukuran pasar dan volume penjualan yang ingin dicapai demi terjaganya output dari kapasitas pabrik.

Baca Lanjutannya…

Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Pemasaran

Pemasaran merupakan suatu kegiatan yang harus dijalankan oleh setiap perusahaan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk berkembang dan mendapatkan laba. Karena dengan laba, perusahaan dapat tumbuh dan berkembang serta dapat menggunakan kemampuan lebih besar dalam memperkuat kondisi perekonomian serta keseluruhan. Pemasaran menggabungkan beberapa kegiatan yang dirancang untuk memberi arti, melayani dan memuaskan kebutuhan konsumen sambil mencapai tujuan dari organisasi. Peran pemasaran sangat diperlukan untuk mendorong majunya suatu perusahaan. Apabila perusahaan dapat menerapkan system pemasaran yang baik dan terencana maka akan memperoleh kemajuan yang diharapkan dan sebaliknya apabila pemasaran tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan, maka perusahaan tidak dapat mencapai tujuan akhir perusahaan itu sendiri. Pemasaran bersifat dinamis dalam rangka penyampaian barang dan jasa dari produsen ke konsumen.

Baca Lanjutannya…

Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Obrolan Ibu-Ibu…

Bila ingin tahu kondisi nyata masyarakat, sempatkanlah berbelanja di penjaja sayur keliling. Niscaya dalam percakapan disekitar gerobak sayur, antara para pembeli dan tukang sayur, akan ada omongan tentang bos yang “antik”, mahalnya harga kebutuhan pokok, tingginya biaya sekolah, sampai politik.. Pelanggan penjual sayur keliling umumnya perempua tapi ada juga laki-laki. Tergantung letak kawasan perumahannya, pembeli bisa ibu rumah tangga, perempuan bekerja, atau pekerjaan rumah tangga. Segala hal bisa dipercakapkan, tetapi biasanya yang paling dekat dan paling langsung menyentuh mereka. Harga bahan makanan yang setiap hari terus merangkak naik adalah percakapan yang biasa dilakukan. Dari situ percakapan langsung bersahutan hingga merebet keperbaikan jalan yang tak kunjung selesai disepanjang jalan raya serang menuju kekompleks perumahan itu. Kemacetan yang ditimbulkan. Percakapan itu berlanjut tentang preman-preman jalanan yang memanfaatkan kemacetan untuk menarik uang dari pemakai kendaraan. Ada juga tentang pilitik sepert cicak vs buaya. Mengobrol ngalor-ngidul atau ngerumpi bisa ditemui pada hampir semua penjual sayur keliling perumahan Kranggan Permai punya kelompok pelanggan yang terdiri dari ibu-ibu yang jumlahnya bisa delapan orang, berusia 40-65 tahun. Mereka ibu-ibu yang memang pekerjaan di rumahnya sudah selesai. Pembicaraan lalu berlanjut tentang apa yang disiarkan televisi. Mulai dari Manohara, Prita Mulyasari, Antasari Azhar, kasus Bibit-Chandra dan komisi pemberantasan korupsi, Anggodo, hingga bank century jadi bahasan mereka. Kadang mereka juga membicarakan gossip artis, tetapi yang paling menjadi perhatian adalah kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti gula, beras, sayur, dan lauk seperti tahu hingga daging. “uang triliun-triliun itu dibuat apa, ya? Kan belum pernah liat (seberapa banyak uang itu),”kata seseorang pelanggan musa, istri pensiunan pegawai kecamatan. “kalau dibeliin sayur bisa dapat sayur sepasar induk, kale,”kata ibu yang lain. Disebuah gang melati, ibu-ibu berbelanja sayur di penjual sayur keliling sambil menunggu anak-anak mereka bersekolah di TK Attawabin. “gula sekarang Rp 12.000 perkilogram, padahal dulu cuma Rp.7000-an,“iya. Beras sekarangjuga naik,. Yang jelek Rp 5.500. kalau mau yang (kualitas) sedang Rp 7.000 yang bagus Rp 7.500. dulu Cuma Rp 4.000, ” timpal siti mulyati yang suaminya juga pegawai swasta. Siti khadijah tidak mau ketinggalan. “harga sembako naik terus, tetapi pendapatan suami begini-begini saja. Jadi susah ngatur uang belanja, harus lebih hemat,”kata siti Bukan hanya sembako, tingginya biaya pendidikan juga membuat ibu-ibu itu cemas. Di perumahan citra gran , ibu yang disapa mama fera (maksudnya ibunya fera) mengeluhkan biaya puluhan juta untuk menyekolaahkan anaknya ke universitas swasta dikawasan Jakarta Barat. Dia lalu membandngkan dengan biaya masuk ke universitas tanggerang.” Dikampung kranggan,Bu Evi mengkhawatirkan biaya masuk ke SMA saat anaknya kelak besar. “Dengar-dengar, biaya masuknya sampai belasan juta rupiah. Aduh……pusing mikirnya,” kata Evi. Aris, situkang sayur lain, lebih banyak diam seraya membungkusi belajaan konsumennya. Percakapan seperti itu menjadi semacam katup pelepasan kesumpekan sehari-hari. Aktifitas tersebut terlihat remeh-temeh, tetapi pada bnyak perempuan, berkomunikasi dengan cara sederhana itu adalah cara membentuk keterhubungan sosial. Mereka saling bertukar informasi, pengetahuan, pendapat, sekedar melepas unek-unek, Berbelanja di penjaja sayur keliling dapat juga dianggap sebagai rekreasi, sejenak ke luar rumah, melepaskan diri dari rutinitas kerja rumah tangga. Berbagai percakapan tersebut berangkat dari pengalaman pribadi, pengalaman domestik, tiap perempuan, tetapi pengalaman-pengalaman pribadi itu adalah cerminan persoalan di ranah publik. Naiknya harga bahan kebutuhan pokok menyangkut soal transporatsi lokal ditingkat kabupaten hingga kebijakan produksi dan distribusi bahan kebutuhan pokok di tingkat nasional. Kebijakan meliberalisasi pendidikan tinggi, misalnya, menyebapkan mahalnya biaya pendidikan tinggi, bahkan perguruan tinggi negeri sekalipun. Para ibu itu bahkan bisa mengambil keputusan, kebijakan politik di tingkat nasional memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Dikampung kranggan, diseputar gerobak sayur, para ibu membicarakan ketidakadilan hukum. Pencuri 3 buah kakao, pencuri semangka, atau pemotongan 3 batang kayu lansung diadili dan divonis bersalah. “koruptor besar yang makan banyak uang rakyat di biarkan bebas. Kalau diadili prosesnya lama dan malah bisa bebas,” kata jujuk, ibu rumah tangga. Pejuang sayur keliling adalah bagian dari system pendukung (“supporting sistem”) dalam tata kehidupan masyarakat urban seperti Jakarta. Mereka adalah pejuang kehidupan yang melayani rakyat yang jauh dari akses pasar. Sekitar pukul 02.00 dini hari, para tukang sayur keliling sudah bangun dan berbelanja ke pasar. Pukul 07.00, mereka sudah menyambangi pelanggan yang tersebar di berbagai perumahan. Ketika para penghuni perumahan tidak mungkin mengakses pasar atupun supermarket di pagi hari, tukang sayur melayani mereka dengan menggelar “supermarket” keliling dan mangkal di depan pagar rumah warga. Itulah yang dilakukan pasangan suami istri, Topik dan Ati. Setiap pagi, pasangan itu dengan gerobaknya mangakal disebuah tikungan dikomples Kranggan Permai,Cibubur. Mereka menjual bumbu masak, sayur mayur bayam, sawi kangkung, kacang panjang, pare, pisang, telur, ikan segar, daging ayam, hinggan daging sapi. Para pembantu rumah tangga tinggal mendatangi mereka dan menyerahkan catatan belanjaan pesanan majikan. Bejo, tukang sayuur lainnya, mendatangi satu per satu rumsh pelanggan di kompleks Griya Satwika Telkom, tidak jauh dari pondok hijau, dengan grobk kayuh setiap pagi. Di kompleks itu, ada beberapa lain yang rutenya sama persis. Tetapi itu tidak masalah. “Disini tidak ada kapling-kaplingan, “kata bejo. Aturan main kalanagan perumahan sayur memang lentur. “kalau sudah ada yang mangkal di satu blok, ya kita mangkal di blok lain, “kata Riswanto, pedagang sayur diperumahan Citra raya, Cikupa, Tanggerang. Mereka tidak takut tidak kebagian rezeki sebab mereka tahu setiap tukang sayur mempunyai pelanggan masing-masing. “kalau sudah cocok, pelanggan tidak akan lari ke tukang sayur lain. Itu sudah hukum alam,” kata Taryadi alias Emen, tukang sayur keliling kompleks perum kranggan Tukang sayur rupanya memahami prinsip manajemen bisnis modem yang antara lain bertumpu pada kepercayaan, kepuasaan pelanggan, dan disiplin. Emen, misalnya, tidak berani bohong soal kualitas dagangan.”kalau jelek bilang jelek, bagus bilang bagus. Kalau tidak pelanggan lari.” Ibu-ibu cerewet Dia mempelajari betul cara menghadapi ibu-ibu yang cerewet dan amat agresif dam militant menawar harga. “dulu saya sering sebal. Sekarang kecerewetan ibu-ibusaya anggap ujian kesabaran,” kata Emen sambil mengusap dada. Emen juga mencari tahu apa yang dimaui setiap pelanggan. “ ternyata mereka ingin tukang sayur yang enak diajak ngobrol dan sering kasih korting (diskon),”tambahnya. Setelah tahu, Emen tidak langsung pulang begitu dagangan habis sekitar pukul 10.00. “saya sediakan waktu dua jam untuk ngobrol dengan ibu-ibu dan baru pulang pukul 12.00. biar mereka senang. Jurus itu ampuh. Sekarang, Emen punya banyak pelanggan. Dia tidak perlu berkeliling lagi sebab pelangganlah yang dating ke tempat mangkalnnya.”kalau saya keliling, ibu-ibu malah protes karena susah mencari saya,” katanya. Tarjom dan Idem mempunyai jurus lain untuk menarik pelanggan. Mereka disiplin memangkal paling lmbat pukul 07.30 saat pelanggan mulai berdatangan. Dia juga membolehkan pelanggan setia membayar belanjaan bulanan yang nilainya bisa ratusan rupiah. Namun, kalau tidak hati-hati, kepercayaanitu malah di salahgunakan pelanggan. Itu dirasakan Kar, pedagang sayur di Kranggan permai. Beberapa pelanggannya menunggak berbilan-bulan sampai Rp.6 juta. Belajar dari situ, Kar mengoceh kesana-kemari lalu menjadi ribut. Ada juga pelanggan menyervis pelanggan dengan berusaha memenuhi semua kebutuhan mereka. “ kalau mereka butuh cabai dan saya kehabisan stok, saya carikan kepedagang lain,” kata Bejo. Hubungan antara pedagang sayur dan pelanggan kadang memang lebih dari sekedar hubungan ekonomi, tetapi juga hubungan ekonomi, tetapi juga hubungan “anta rteman” yang saling menguntungkan. Bisnis kaum jelata ini juga menjadi perekat sosial antar pedagang sayur. Tengok saja, sebagian pedagang hidup berkelompok dalam koloni kecil di sejumlah kampong. Salah satunya ada di Kecamatan Jatisampuran Di sana, ada belasan pedagang sayur tinggi di rumah petak yang berdekatan. Sore hari setelah berjualan, mereka ngobrol antarsesama sambil melepas lelah. Koloni semacam itu juga di temukan di perkampungan dekat kompleks. Sebenarnya tidak mengherankan jika para pedagang itu hidup akur meski tiap hari berebut rezeki dilahan yang sama. Pasalnya, mereka berasal dari daerah yang sama seprti pekalongan,pemalang,dan cilacap yang semuanya di jawa tengah. Hampir semua pedagang sayur ditanggerang berasal dari kelurahan kwasen, kecamatan kesasi pekalongan..” jumlahnya mungkin seribu lebih,” katanaya ada pula yang berada dari satu desayang sama, yaitu desa kayugeritan, kecamatan karanganyar, pekalongan. Mereka migrasi ke Jakarta untuk jualan sayur di plopori Tardi dua tahun lalu. Melihat kesuksesan kerabat dan tetangganya ikut-ikutan jual sayur keliling di daerah Cibubur. Setiap hari para tukang sayur bisa memutar uang Rp. 500.000 dengan keuntungan rata-rata Rp.100.000. dari situ, dia bisa membangun rumah di kampong, mungkin juga bias menyekolahkan anak-anaknya. Balada penjual sayur keliling adalah potret yang tangguh. Mereka menyiasati hidup ditengah ketidakpastian ekonomi dan hukum yang tidak pernah berpihak kepada Wong cilik seperti mereka.

Daftar Pustaka : Kompas, Koran Rabu 20 januari 2010

Oleh: anumaruni | 9 Mei 2010

Penculikan Bayi Meningkat

Data penculikan anak tahun 2009 belum diketahui secara pasti karena masih dalam tahap penyusunan. Menurut saya, untuk kasus penculikan anak yang hingga saat ini belum terselesaikan, jajaran Polisi akan terus menindaklanjuti dan melakukan penyidikan lebih intensif serta berkoordinasi dengan pihak kepolisian di wilayah lain. “Tidak menutup kemungkinan kalau kasus penculikan bayi dan anak dilakukan oleh sindikat perdagangan anak, baik dalam skala nasional maupun internasional,” mengharapkan kepada semua orang tua yang mempunyai bayi atau anak yang masih kecil agar selalu waspada terhadap orang-orang yang tidak dikenal yang berada di lingkungan masing-masing. “Bagi anak-anak harus diajarkan agar tidak mudah percaya, termasuk bersedia diajak pergi oleh seseorang yang tidak dikenal, dengan alasan apa pun,” Seperti Bayi pasangan Murtanti dan Edi Sugianto sudah kembali setelah seminggu diculik dari Puskesmas Kembangan, Jakarta Barat. Kasus penculikan bayi meningkat tajam. Sampai kini, penculik bayi Dwi-Yahron dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kota Semarang Jawa, raib. Bayi itu diculik tiga bulan lalu. Seperti pasangan Dwi-yahron, banyak orang tua lainberharap-harap cemas dalampenantian . Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak mencatat, kecendrungan penculikan bayi di tempat bersalin meningkat dua tahun terakhir. Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist MErdekja Sirait, pekan lalu mengungkapkan, apabila pada 2008 dilaporkan 72 kasus penculikan bayi di jabodetabek-12 di antaranya terjadi di tempat persalinan –tahun 2009 terjadi 102 kasus dengan 26 penculikan berlangsung ditempat persalinan. “Kebanyakan karena ada keterlibatan orang dalam”kata dia dari total 38 kasus penculikan bayi di tempat bersalin , yang dapat ditemukan baru delapan bayi. Umumnya kasus terungkap lewat keterangan saksi atau dari warga yang curiga ada bayi tiba-tiba muncul dilingkungan mereka. Pada penculikan di puskesmas Kembangan, kasus terkuak berkat lapoaran bidan Khulyatun dan Sri Lestari, karyawan puskesmas itu. Polisi telah menangkap bidan honorer sebagai tersangka penculik, pekan lalu. Namun, 30 kasus sisanya masih gelap sampai sekarang. Kasus-kasus ini sulit dilacak karena ketiadaan informasi awal. ntuk mengantisipasi terjadinya hal serupa, Meteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menginstruksikan kepada setiap pengelola sarana kesehatan untuk meningkatkan pengamanan, khususnya di ruang rawat inap bayi dan anak. “Untuk jangka panjang, kami akan menyusun standar pengamanan di fasilitas kesehatan yang diikuti dengan pembiayaan sarana dan prasarana. Menkes mengakui, sebelum masalah penculikan bayi banyak terjadi, pengamanan masih kurang walaupun sudah ada penggunaan seragam, name tag bagi semua karyawan dan peserta didik termasuk tamu, rekanan rumah sakit dan lainnya. Orangtua Terus Berharap Data dari Komnas Perlindungan Anak menunjukkan, apabila pada tahun 2008 dilaporkan 72 kasus penculikan bayi di Jabodetabek, maka pada tahun 2009 jumlah kasus yang dilaporkan naik menjadi 102 kasus. Data ini makin melengkapi gambaran amat suram dan memprihatinkan mengenai nasib bayi-bayi di negeri ini sebagaimana mana terbaca dalam rilis akhir tahun. Komnas Perlindungan Anak. Sepanjang tahun 2009 ditemukan 4.382 anak korban aborsi, meningkat dibanding tahun 2008 yakni 2.567 anak. Lagi, di tahun 2009 ditemukan 186 bayi sengaja dibuang, meningkat dari tahun 2008 dengan jumlah kasus 104 bayi; 68 prosen ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia. Kejahatan terhadap bayi-bayi ini pantas kita angkat. Bukan hanya karena telah terjadi peningkatan jumlah kasus yang begitu besar. Tetapi juga dan terutama karena mereka adalah korban-korban yang dijadikan barang komoditi, yang menderita dan mati dalam dalam ketakberdayaan dan kesunyian yang amat dalam karena tak punya daya dan suara. Sudah bisa dipastikan reaksi-reaksi apa yang akan muncul ketika masyarakat berhadapan dengan kasus-kasus semacam itu: Ini sungguh memprihatinkan; ini tindakan di luar akal sehat, tidak berperikemanusiaan dan tidak bisa ditolerir; ini kejahatan terhadap kemanusiaan, karena itu pelakunya pantas dihukum seberat-beratnya. Suara-suara reaktif itu sudah lama ada, mula-mula keras terdengar lalu lama kelamaan lenyap seiring dengan perjalanan waktu. Sementara itu kasus-kasus tidak berperikemanusiaan itu masih saja terus terjadi, makin lama makin meningkat jumlah kasusnya. Ada banyak analisis menyangkut motif di balik kasuskasus itu. Sudah sangat sering kita mendengar analisis, kasus-kasus ini terus meningkat karena penegakan hukum lemah. Sudah sangat sering pula kita mendengar analisis, kasus-kasus ini terjadi karena himpitan sosial ekonomi yang menjerumuskan pelaku pada tindakan tidak berperikemanusiaan itu. Kita sudah tahu pula bahwa perlu ada tindakan preventif untuk mencegah terjadinya kasus-kasus itu. Kita juga sudah tahu bahwa perlu ada tindakan tegas menangani kasus-kasus yang sudah terjadi. Untuk mengurangi tindak kejahatan terhadap bayi, sudah lama aparat hukum didesak agar benar-benar bekerja keras menegakkan hukum. Masyarakat sudah juga terus menerus diminta untuk ikut mendukung penegakan hukum. Seruan untuk memperkecil kesenjangan sosial ekonomi yang menjadi motif kejahatan terhadap bayi-bayi sudah lama dikumandangkan. Dan ternyata bukannya berkurang, kasus-kasus kejahatan itu malah bertambah. Apa yang sesungguhnya telah terjadi? Tidaklah benar kalau mengatakan tidak ada upaya apapun baik menyangkut tindakan pencegahan maupun menyangkut penanganan terhadap kasus-kasus yang sudah terjadi. Sudah sangat sering kita mendengar, selama ini upaya-upaya penanganan masalah apapun di negeri ini tidak berhasil karena cara-cara penanganan persoalan yang tidak efisien dan tidak efektif, justeru karena coraknya yang pragmatis, parsial, tidak terencana, dan tidak sistematis. Kita sudah sangat menyadari bahwa cara penanganan yang komprehensif, terencana dan sistimatis perlu dirumuskan bersama dengan mempertimbangkan segala aspek yang ikut menjadi pemicu tindak kejahatan terhadap bayi-bayi itu. Ini penting untuk mendorong suatu gerakan bersama, ya pemerintah, ya masyarakat untuk menangani persoalan menyangkut kejahatan yang justeru menjadikan bayi-bayi sebagai korbannya itu. Cara penanganan semacam itu mesti mempertimbangkan bahwa para pelaku kejahatan itu sesungguhnya adalah produk dari suatu masyarakat yang sedang sakit. Suatu masyarakat yang sedang memudar rasa kasih sayangnya; yang lebih mengutamakan status sosial dan harga dirinya, ketimbang merangkul sesama warga yang tertimpa masalah; yang cenderung memandang anggota keluarga yang tertimpa masalah sebagai pelaku aib yang pantas disingkirkan karena memalukan. Penyembuhan masyarakat yang sakit semacam ini menjadi prasyarat yang mutlak perlu demi mengatasi kejahatan terhadap bayi-bayi yang tak berdosa itu. Suatu tantangan bagi para pemimpin agama-agama. Menurut saya, dalam setiap kasus penculikan, orang-orang yang melakukannya telah merencanakan dengan matang dan sangat rapi sehingga menyulitkan penyelidikan pihak kepolisian. Sejumlah petugas keamanan rumah sakit terlihat berjaga di semua akses masuk, namun pengunjung masih dapat keluar masuk di luar jam besuk. Pihak rumah sakit juga memperketat akses masuk ke kamar bayi dan bagi keluarga pasien yang ingin melihat maupun menggendong bayinya diwajibkan memperlihatkan kartu pengenal keluarga pasien.Sementara itu, Koordinator Jaringan Peduli Perempuan dari Anak (JPPA) Jawa Tengah, Agnes Widanti, menyayangkan terjadinya penculikan di dalam sebuah institusi yang diharapkan bisa melindungi seorang anak maupun ibu yang sedang menjalani perawatan pascame-lahirkan. “Dalam hal ini, pemerintah seharusnya memberikan perhatian lebih besar kepada anak karena tanggung jawab perlindungan anak seluruhnya tidak hanya para orang tua, tapi juga pada negara,” kasus penculikan sebenarnya tidak perlu terjadi kalau manajemen dari pihak RSUD itu sudah baik. Dan, aturan-aturan yang ada ditaati serta dijalankan semua pihak sesuai standar operasional prosedur (SOP). Dalam kasus tersebut meminta agar pihak RSUD bertanggung jawab penuh kepada kedua orang tua bayi yang menjadi korban penculikan. “Bentuk tanggung jawabnya bisa berupa dukungan secara moral, material, dan tetap berusaha semaksimal mungkin dalam menemukan bayi yang diculik tersebut. “Pada 2007 tercatat 15 kasus penculikan bayi dan anak, serta pada 2008 ada 17 kasus penculikan dengan rata-rata jumlah yang terselesaikan sebanyak 10 kasu. Saya mengharapkan kepada semua orang tua yang mempunyai bayi atau anak yang masih kecil agar selalu waspada terhadap orang-orang yang tidak dikenal yang berada di lingkungan masing-masing. Sementara itu, Koordinator Jaringan Peduli Perempuan dari Anak (JPPA), menyayangkan terjadinya penculikan di dalam sebuah institusi yang diharapkan bisa melindungi seorang anak maupun ibu yang sedang menjalani perawatan pascame-lahirkan. Daftar Pustaka : http://www.google.com

Oleh: anumaruni | 6 Mei 2010

Keprihatinan Masyarkat

Wajah penegak hukum kita masih sangat memprihatinkan kalau boleh  diumpamakan ini adalah gabungan dari ulah sebagian oknum dan adanya kebobrokan dalam criminal justice system yang akut di Indonesia. Pertanyaannya apakah ada niat baik dari pemerintah untuk melaksanakan reformasi hukum dan reformasi birokrasi dilingkungan lembaga-lembaga penegak hukum.

Khusus untuk MA(mahkamah agung) sendiri keberadaan makelar kasus tersebut diakui sangat menganggu independensi hakim dalam menangani perkara. Terkait dengan hal tersebut sudah di keluarkannya aturan seperti larangan bertemu pihak berperkara dan larangan dari pihak berperkara.”Pedoman Perilaku Hakim yang sudah ada akan ditegakkan sungguh-sungguh” hingga 30 oktober 2009 sudah 30 hakim yang di non palukan selama satu dan dua tahun. Dalam waktu dekat ini ada lagi hakim yang di adukan ke majelis Kehormatan Hakim. Karena diduga melakukan pelanggaran berat, dan di usulkan unuk di pecat.

Di lingkungan kejaksaanpun sudah melakukan birokrasi bersih, antara lain pembaruan kejaksaan. Riset menemukan banyaknya pola korupsi di tubuh kepolisian dalam bentuk permintaan uang jasa,penggelapan perkara denan alasan tidak cukup bukti, negosiasi perkara saat penyusunan berita acara pemeriksaan, pemerasan dan pengaturan ruang tahanan

Sedari kecil kita sudah di ajari oleh orang tua dan agama kita masing-masing untuk dilarang mencuri disekolah dan diberbagai kegiatan pusdiklat atau seminar-seminar kantor selalu ada materi manajemen etika. Kita di ajarkan beretika dalam hidup, salah satunya adalah tidak memberi dan menerima suap. Tetapi masih saja hal ini terjadi di institusi Negara kita seperti KPK (komisi pemberantas korupsi).  Sudah menjalin kerjasama dengan banyak sekolah serta perguruan tinggi dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran etika atau menyisipkan pelajaran etika. Pemberantasan korupsi dalam mata pelajaran ini yang relevan dikatakan oleh mantan pejabat KPK. Bapak Erry Riyana Harja Pamungkas.

Peraturan pemakaian baju khusus koruptur juga tidak berjalan efektif. Padahal baju unuk menimbulkan efek jera terhadap pelaku korupsi. Mantan presiden korea selatan sendiri menggunakan baju khusus tahanan.

Pasal karet yang sengaja dipelihara dan digunakan untuk menjerat oknum pengadilan hanya menjadi pemicu hidupnya mafia pengadilan yang semakin subur di Indonesia. Banyak faktor penyebabnya. Pembeli akan muncul ketika ada penjual, pada saat ada kebutuhan selalu ada pihak yang berkreasi untuk memenuhi kebutuhan itu.

Merebaknya kasus cicak vs buaya. Menunjukkan lemahnya penegakkan  hukum . Terkait pemberantasan korupsi, bahkan ada dugaan upaya kriminalisasi suatu institusi tertentu. Di tangkap nya bibit-chandra sebagai tersangka penyalahgunaan wewenang  pada tanggal 15 desember 2009. Dan kemudian presiden menonaktifkan  sementara pada tanggal 21 september 2009 dan mengeluarkan PERPPU yang  memberikan kewenangan kepada presiden untuk mengangkat dan menetapkan pejabat sementara pimpinan KPK (komisi pemberantasan korupsi). Kini kisruh kasus Chandra-Bibit juga tak terlepas munculnya makelar kasus (Markus) yaitu Ari Muladi dan Edi Soemarsono dalam dugaan suap yang dilakukan Anggoro Widjojo terkait kasus korupsi PT Masaro Radiokom. Pihak Chandra-Bibit membantah adanya suap, namun polisi kekekuh memiliki bukti kedua pimpinan KPK (non aktif) tersebut menerima suap. “Bagi kami berdua, yang terpenting adalah membuktikan kepada tim 8 bahwa saya dan Bibit tidak menyalahgunakan kewenangan sebagaimana dituduhkan juga tidak melakukan pemerasan. Namun dipihak lain, kepolisian memiliki kepercayaan tinggi bahwa Chandra-Bibit telah menyalahgunakan wewenang dan melakukan pemerasan dalam kasus Djoko Tjandra dan Anggoro Widjojo. Seperti pernyataan Kapolri Bambang Hendarso Danuri seusai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III yang menyebutkan Ari Muladi, perantara uang dari Anggodo Widjojo kepada pimpinan KPK, sebanyak enam kali menyambangi KPK. “Dia datang ke KPK sebanyak enam kali,” ujarnya. Kedatangan Ari ke KPK seperti menepis kesaksian Ari yang mengaku tidak mengenal pimpinan KPK. Terkait dengan kesaksian Ari Muladi yang mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP), yang mulanya disebutkan uang diberikan ke pimpinan KPK namun kemudian dikoreksi dan diberikan ke pengusaha asal Surabaya          Yulianto.
Sebagaimana dimaklumi, pada awal penyelidikan kasus Chandra-Bibit, Ari Muladi mengaku telah memberikan sejumlah uang kepada pimpinan KPK, termasuk Chandra dan Bibit. Pengakuan itu dituangkan dalam dokumen kronologis kasus Chandra-Bibit tertanggal 15 Juli lalu. Namun di  di tengah penyidikan pada 26 Agustus Ari mencabut keterangan            semula.

Terkait dengan kasus Chadra-Bibit ini, Tim 8 menemukan terdapat oknum KPK yang turut bermain dalam kasus ini. Oknum ini diduga kuat bermain dalam pembusukan di internal KPK. “Memang ada oknum-oknum yang berimplikasi pada terjadinya pembusukan. Baik dalam rumah KPK, Jaksa, dan Polri,” ujar anggota Tim 8, Komarudin Hidayat. Terkait dengan oknum KPK, Rektor UIN memberi petunjuk, oknum tersebut berada di bawah level pimpinan KPK.

Kisruh kasus Chandra-Bibit ini memang sepatutnya menjadi momentum bagi bangsa ini untuk membersihkan mafia hukum baik di kepolisian, kejaksaan maupun KPK. Karena, dalam beberapa hari terakhir konsentrasi publik tertuju pada Kejaksaan dan Kepolisian. Padahal, di tubuh KPK tak bisa dipungkiri patut diduga berpotensi terjadinya makelar kasus.

Sosok seperti Ari Muladi atau Edi Soemarsono bisa saja berprofesi sebagai makelar kasus di KPK yang memiliki akses ke petinggi KPK. Sulit untuk menalar, jika Ari Muladi hanya mengaku-ngaku sebagai orang dekat KPK, namun tak memiliki akses atau setidaknya kenalan dekat di KPK. Saatnya pimpinan KPK mereformasi internalnya. Jangan sampai KPK menerapkan pribahasa ‘Gajah di depan mata tak terlihat, semut di sebarang lautan terlihat.

Presiden susilo bambang yudhoyono menyatakan solusi yang lebih baik ditempuh didalam penanganan pada kasus bibit-chandra adalah tidak mebawa kasusnya ke pengadilan. Berkaitan dengan judul artikel di atas yaitu adanya ketdak percayaan yang luar biasa terhadap penegak hukum dan apabila kondisi ini biarkan berlarut -larut maka akan mengarah pada simbol-simbol Negara

Menyikapi komisi tersebut, pimpinan dari tujuh lembaga Negara, menyikapi kondisi  tersebut, pimpinan dari tujuh lembaga Negara mengadakan pertemuan terutup digedung MPR Senayan, Jakarta senin 23 november tanpa dihadiri presiden.

Dalam pertemuan tersebut para pimpinan lembaga Negara yang hadir juga berharap dan berkeyakinan presiden dapat menyampaikan sikapnya yang bijak untuk Negara dan bangsa dalam merespons rekomemdasi tim independen verifikasi fakta dan poseshukum tehadap wakil ketua  (non aktif) KPK Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, Tim delapan diharapkan pula untuk jangka panjang presiden Susilo Bambang Yudhoyono dapat mengambil langkah yang sistematis dan sungguh-sungguh penegakkan hukum

Dalam pertemuan itu pula semua pimpinan lembaga hukum yang terkait mendorong adanya reformasi hukum termasuk reformasi aparat penegak hukum. Karena melihat persoalan hukum sudah melampaui titik nadir.

Kita sebagai masyarakat yang awam terhadap penegakkan hukum di Indonesia hanya bias berharap supaya besarnya tekanan publik dan kesadaran kritis dapat melemahkan dan menghambat munculnya Mafioso pengadilan. Ketika komitmen penguasa terhadap pemberantasan korupsi  diragukan harapan yang tersisa kini hanya berada di pundak masyarakat sipil yang kritis dan mempunyai  integritas.

Makelar kasus (Markus)

Makelar kasus (Markus) sudah menjadi hal yang cukup lazim dalam praktik hukum di Indonesia. Istilah ini hampir ada di seluruh lembaga penegak hukum di Indonesia. Tak terkecuali Markus juga menjamah di tubuh KPK. Kini, momentumnya membombardir Markus di KPK. Selain, tentunya di Kepolisian dan Kejaksaan. Makelar kasus di tubuh polri dan kejaksaan jamak dimaklumi publik. Yang monumental dan terkuak ke publik yaitu Artalyta Suryani yang tertangkap basah menyuap Jaksa Urip Tri Gunawan sebesar US$ 660 ribu atau sekitar Rp 6 miliar yang diduga terkait kasus BLBI I.

Polisi Utamakan Usut Makelar Kasus

.
Dugaan makelar kasus di kepolisian mencuat setelah Komisaris Jenderal Susno Duadji membeberkan nama Gayus kepada Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum. Susno juga menuduh Brigadir Jenderal EI dan RE, serta sejumlah perwira, terlibat rekayasa pengusutan kasus dengan barang bukti Rp 28 miliar itu.

Tak terima namanya diseret-seret, Brigadir Edmond Ilyas dan Brigadir Jenderal Raja Erizman melaporkan Susno atas tuduhan pencemaran nama baik. Markas Besar Polri pun bergerak cepat dengan menetapkan Susno sebagai tersangka.

Sebelumnya, Satuan Tugas meminta polisi mendahulukan pengusutan dugaan korupsi ketimbang mengurusi laporan pencemaran nama baiknya. Anggota Satuan Tugas, Mas Achmad Santosa, kemarin mengatakan rekayasa kasus Gayus diduga tak hanya melibatkan polisi dan jaksa, “Tapi juga hakim dan pengacara.”

Indikasi keterlibatan berbagai pihak itu, menurut Achmad, terlihat dari aneka kejanggalan, mulai tahap penyelidikan kasus hingga vonis bebas atas Gayus.

Kejanggalan paling nyata, kata Achmad, adalah pembukaan blokir atas rekening Gayus yang berisi uang Rp 24,6 miliar. Polisi membuka blokir atas dasar petunjuk jaksa serta keterangan Andi Kosasih, orang yang menurut polisi telah bersaksi palsu sebagai pemilik uang. Sebelumnya, uang itu dicurigai hasil pencucian uang, penipuan, dan korupsi
Kejanggalan lain, Achmad menambahkan, sejak kasus ini disidik, Gayus tak pernah ditahan. Selain itu, Gayus hanya dituntut hukuman percobaan satu tahun dengan tuduhan penggelapan. Atas dakwaan ringan itu, Pengadilan Negeri Tangerang malah memvonis Gayus bebas.

Sebelum menghilang, Gayus tiga kali menemui Satuan Tugas. Dia mengungkapkan modus-modus patgulipat yang jamak terjadi dalam pengadilan kasus pajak. “Menurut Gayus, pengadilan pajak jadi tempat permainan,” ujar Achmad.
Kepada Satuan Tugas, Gayus pun mengaku tidak bermain sendirian. “Itu biasa. Banyak orang seperti dia di kantor pajak.” Di kantor Gayus, kata Achmad, sedikitnya ada 10 orang penelaah wajib pajak. Rata-rata setiap orang menelaah enam kasus wajib pajak dalam sehari. Semakin tinggi golongan pegawai, semakin besar perusahaan yang ditelaah. Sebagai pegawai golongan III-A, Gayus mengaku hanya menangani perusahaan kecil. Sementara itu, menindaklanjuti kasus ini, tim penyidik Markas Besar Kepolisian RI menetapkan Andi Kosasih, pengusaha asal Batam, sebagai tersangka praktek makelar kasus pajak. Sejak kemarin sore ia resmi menjadi tahanan dan mendekam di rumah tahanan Mabes Polri. “Surat penahanan Andi Kosasih telah dikeluarkan penyidik,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Edward Aritonang kepada wartawan kemarin.

Nama Andi mencuat setelah Komisaris Jenderal Susno Duadji membeberkan adanya praktek makelar kasus yang diduga melibatkan sejumlah jenderal di Mabes. Kasus ini bermula dari penyidikan polisi atas laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, yang mencurigai transaksi sejumlah Rp 25 miliar ke rekening Gayus Halomoan      Tambunan, pegawai pajak yang berstatus buron.

Dalam satu diskusi di Jakarta kemarin, juru bicara Mabes Polri Brigadir Jenderal Sulistyo Ishak mengatakan, dari hasil penyidikan sementara terhadap Andi Kosasih, diketahui ada hubungan antara Andi dan Gayus sebelum kasus mencuat. “Ada hubungan di antara mereka. Menurut pengakuan Andi, mereka kongsi bisnis,” kata Sulistyo.

Dua penyidik tersangka Andi Kosasih, Ajun Komisaris Besar Daniel Bolly Tifaona dan Ajun Komisaris Besar Nico Afinta, menutup mulut saat wartawan menanyakan hasil pemeriksaan. Daniel, yang menjabat Kepala Satuan Keamanan Negara Polda Metro Jaya, dan Nico, Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan, diperbantukan di Mabes Polri untuk            menyidik           kasus    tersebut.

Begitu juga anggota Komisi Kepolisian Nasional, Adnan Pandupraja, menolak memberi penjelasan. Ia mengaku diundang Mabes Polri untuk mengawasi proses pemeriksaan tersangka Andi Kosasih. Menurut dia, pemeriksaan diawasi langsung oleh Inspektur Jenderal Mathius Salempang, Kepala Polda Kalimantan Timur. “Saya kira Polri cukup serius mengusut kasus ini,” kata dia.

Karena banyaknya media massa yang menulis tentang Makelar Kasus atau disingkat dengan Markus membut rasa penasaran ingin tahu apa sebenarnya arti dan maknanya, sehingga begitu sering disebut dan ditulis diberbagai media.

Mencoba mencari tau dari situs search engine google, akhirnya pengertian Makelar Kasus ketemu juga dan meski tidak begitu sempurna sekali, namun paling tidak sudah dapat menjawab sedikit banyaknya rasa penasaran akan pengertian Makelar Kasus.

Dari pengertian kata makelar sendiri berarti merupakan perantara antara penjual dan pembeli. Makelar yang sudah mengenal baik si penjual dan si pembeli, maka keberhasilan akan terjadinya sebuah transaksi akan semakin besar.

Dengan pengertian makelar diatas, maka untuk pengertian makelar kasus, atau markus dapat diartikan sebagi seorang perantara yang mengenal penjahat sekaligus memiliki hubungan dengan penegak keadilan (Polisi, KPK, Jaksa), dan biasanya Makelar Kasus memberikan informasi yang dia ketahui tentang penjahat, dan kemudian Makelar Kasus akan menyampaikan informasi tersebut kepada para penegak hukum.

Sepintas dari pengertian dan penjelasan tentang Makelar Kasus diatas, maka sebenarnya tidak ada yang salah dengan pekerjaan Markus atau Makelar Kasus?

Memang tidak ada yang salah pekerjaan sebagai Markus asalkan kegiatan itu dilakukan dengan menempatkan etika dan kaidah hukum dalam prakteknya dan halalan, namun untuk makelar kasus yang sering disebut-sebut di media massa adalah makelar yang tidak lagi menempatkan etika dan kaidah hukum, bahkan berupaya merekasaya sebuah perkara hukum untuk mendapatkan keuntungan yang luar biasa.

Pekerjaan seperti itu terus menurus dilakoni, karena pekerjaan sebagai makelar kasus adalah pekerjaan yang ringan dengan penghasilan yang besar, sehingga pekerjaan ini memiliki daya tarik yang sangat tinggi.

Ada apa dengan susno???

Susno Duadji kembali menghebohkan publik. Pernyataan lantang mantan Kepala Bareskrim itu perihal makelar kasus di tubuh kepolisian membuat petinggi Polri berang dan meradang. Perkara yang dibeberkan Susno itu terkait dengan skandal kasus penggelapan pajak senilai Rp25 miliar. Kasus ini melibatkan pegawai Ditjen Pajak, Gayus Tambunan, yang kini berstatus terdakwa dan sedang disidangkan di PN Tangerang.

Berdasarkan penyidikan yang telah dan sedang dilakukan polisi, dari total dana Rp25 miliar di rekening Gayus, hanya Rp395 juta yang memenuhi unsur pidana. Sisanya yang semula diblokir polisi di kemudian hari dilepas blokirnya juga oleh polisi. Dana itulah yang kabarnya mengalir ke kantong sejumlah petinggi kepolisian dan para penyidik kasus tersebut. Tidak tanggung-tanggung, menurut dugaan Susno, dua perwira tinggi bintang satu         turut     menikmati         uang     itu.
Mereka adalah Brigjen Edmon Ilyas, yang sekarang menjabat Kapolda Lampung, dan Brigjen Raja Erizman, yang kini menduduki posisi Direktur II Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri.

Susno tentu tidak asal menuding. Orang sekelas Susno, perwira tinggi polisi bintang tiga, tentu tahu dan paham benar perbedaan antara fitnah dan indikasi adanya pelanggaran hukum beserta konsekuensinya. Makelar kasus atau mafia hukum dan sejenisnya bukanlah perkara baru. Akan tetapi, inilah persoalan yang bisa dirasakan, namun selalu tidak diakui, dan amat sulit untuk dibongkar. Padahal, pembusukan hukum di Republik ini akan terus terjadi salah satunya karena adanya permufakatan jahat antara aparat penegak hukum dan pihak-pihak lain yang ingin mengangkangi peraturan.
Hukum di negeri ini busuk karena keadilan dapat diperjualbelikan. Itu sebabnya, semua lembaga penegak hukum di negeri ini terkenal korup. Itu pula yang membuat Indonesia memperoleh predikat negara terkorup se-Asia Pasifik menurut versi terbaru Political and Economic Risk Consultancy (PERC). Dalam konteks itu, persoalan tidak boleh difokuskan kepada sosok Susno dan mencari ‘motifnya’, seperti mengapa baru sekarang dia            mengungkapkan            makelar kasus di kepolisian.

‘Nyanyian’ Susno itu justru hendaknya menjadi pemicu semua lembaga penegak hukum, termasuk kepolisian, untuk introspeksi dan berbenah diri. Karena itu, apa yang dibeberkan Susno seharusnya direspons secara positif dan kreatif, bukan reaktif dan negatif. Bukan pula, justru memperuncing pertikaian internal di lingkungan Polri. Langkah yang diambil Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, yaitu mendorong KPK untuk segera menyelidiki makelar kasus di jajaran Polri, merupakan salah satu bentuk respons          yang     positif.

Sukses tidaknya pemberantasan mafia hukum sangat bergantung kepada keberanian Polri untuk mereformasi diri sendiri, termasuk menindak dan membersihkan jajaran mereka. Hal yang selalu digaungkan, tetapi masih jauh panggang dari api dalam kenyataan. Tanpa komitmen nyata membersihkan diri sendiri, upaya memberangus makelar kasus sebagai bagian dari reformasi di tubuh Polri hanya akan mati suri karena terkekang oleh arogansi institusi.

Dalam arti tertentu, Komjen Susno Duadji sekarang sedang dalam posisi menang. Sempat disudutkan dan mendapatkan status yang barangkali hanya ada  di Kepolisian RI, “terperiksa”, borok yang dibukanya membuat “korban” satu-persatu berjatuhan. Dua Jenderal telah dicopot. Tapi bagi Susno, ternyata, itu baru pemanasan.
Mantan Kepala Bagian Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri ini mengatakan masih ada markus besar lainnya di tubuh Polri. Susno Duadji berjanji, dalam waktu dua-tiga hari ini, dia akan mengungkap apa yang kini disebutnya pula sebagai ‘Makasar (makelar kasus besar)’. Ini disampaikannya melalui Iz Harry Agusjaya Moenzir, dalam sebuah diskusi bedah bukun “Bukan Testimoni Susno Duadji” di Surabaya, Senin (5/4). Dalam pernyataan yang dikemukakan lewat telepon genggam Iz Harry, penulis buku tersebut, Susno mengatakan bahwa dalam kasus penggelapan pajak Rp 28 miliar. Susno menyebut Makasar itu berinisial SJ.
“Dulu, SJ ini dikenak sebagai teman dekat mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Makbul Padmanegara. Inilah kenapa reformasi di Polri sulit dilakukan. Markus dan Makasar berkeliaran tak jauh dari ruang Kapolri dan Wakapolri,” katanya.
Sebelumnya, anggota Komisi III DPR Bambang Soesatyo juga mengaku mendapatkan banyak laporan dari masyarakat bahwa ada seorang markus di Mabes Polri yang masih bebas berkeliaran. Inisialnya SJ. Namun informasi diperoleh Bambang, SJ adalah orang di luar Mabes Polri. “Dia bebas berkeliaran di ruang petinggi Mabes Polri. Masalah ini akan kami konfirmasikan kepada Kapolri saat Komisi III memanggil Kapolri Rabu pekan depan.
Susno sendiri pun terus dikejar kasus. Dalam kasus Gayus Tambunan misalnya, ia diduga menerima dana sebesar Rp 6 miliar. Tentang hal ini, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) menyerahkannya ke tim independen. “Biar saja proses berjalan dulu. Kami tak boleh berandai-andai dan tak boleh main tuduh sembarangan,” ujarnya.
BHD menampik, jika upaya pengungkapan makelar kasus di tubuh kepolisian oleh Susno ditafsirkan sebagai upaya balas dendam.sumber (www.inilah.com)

Older Posts »

Kategori